Kenalin,
namaku Galih Aditya Wirawan. Umurku baru 15 tahun dan masih bersekolah di salah
satu sekolah SMA Negeri di daerahku. Aku lebih banyak menjalani hidup berdua
dengan ibuk. Aku nggak tahu ayahku sekarang berada dimana. Terakhir aku melihat
ayah saat aku baru masuk Sekolah Dasar. Aku nggak tahu kenapa ayah pergi.
Sejauh yang aku ingat, ayah sama ibuk nggak pernah bertengkar. Saat terakhir
ayah akan pergi dari rumah, ia berpesan untuk tetap terus menjaga ibuk dan
jangan sampai bikin ibuk menangis. Dan dia juga bilang selamat tinggal dan
nggak pernah kembali lagi. Ibuk juga nggak nangis, beliau suruh aku untuk tidak
benci ayah. Dan bilang suatu hari nanti aku akan ngerti kenapa ayah pergi.
Semenjak
ayah pergi, ibuk yang mencari nafkah untuk kebutuhan hidup kita berdua. Ibuk
tak kenal lelah dari pagi sampai malam banting tulang untuk mencari rezeki. Dia
juga tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang ibuk. Kadang aku bingung,
bagaimana bisa ibuk mengatur waktu untuk mengurus aku dan mencari uang. Tapi
ternyata beliau bisa melakukan itu semua tanpa ada rasa mengeluh yang keluar
dari mulutnya.
Yang
ku tahu ibuk setiap pagi hingga sore bekerja sebagai tukang jamu gendong
keliling.
Tapi
disaat malam hari aku nggak tahu ibuk bekerja apa. Karena saat ibuk akan
bekerja malam selalu menunggu aku tertidur pulas dulu. Saat aku bangun dari
tidur malamku ibuk sudah berada di rumah untuk menyiapkan sarapan pagi. Aku
pernah bertanya pada beliau,
"Ibuk
kerja apa sih saat malam hari?"
Beliau
nggak pernah menjawab pertanyaanku dan hanya memberikan senyum manisnya seakan
dia nggak ingin anaknya tahu akan pekerjaan beliau di malam hari. Berkali-kali
aku tanyakan hal yang sama apa pekerjaan ibuk saat malam. Beliau juga
berkali-kali hanya diam dan tersenyum. Mungkin menurutku senyuman ibuk itu
jawaban yang membosankan saat aku bertanya pekerjaan ibuk. Suatu hari
ibuk pernah bilang,
“Buat
apa toh le kamu tahu pekerjaan ibuk. Yang penting ibuk bisa mencukupi kebutuhan
kita dan yang penting kamu harus sekolah yang pinter. Biar hidup kita bisa
lebih baik dari sekarang le.”
Saat suatu hari aku pernah tanpa sengaja melihat ibuk menangis disaat
beliau selesai sholat. Aku nggak tahu ada hal apa sampai membuat ibuk menangis.
Selesai sholat, aku menghampiri ibuk saat ibuk membereskan mukenahnya.
“Ada apa buk kok ibuk nangis?”
Ibuk tersenyum sambil melihatku dan beliau mengusap air matanya. Ibuk
nggak menjawab pertanyaanku. Ibuk mengelus kepalaku dan menggelengkan kepala.
Dan ibuk kembali beres-beres rumah seperti biasanya. Hari-hari berikutnya aku
mengetahui ibuk menangis lagi seperti sebelumnya selepas sholat. Melihat ibuk
yang terus-terusan menangis, aku pun semakin penasaran ada apa ibuk sampai
menangis berkali-kali. Maka aku pun semakin ingin mencari tahu penyebab ibuk
menangis terus seperti ini.
Dan seperti biasanya setiap pagi ibuk sudah berada di rumah untuk
membuat sarapan buat kita berdua. Aku melihat wajah ibu terlihat amat capek.
Ibuk bekerja di malam hari disaat aku sudah terlelap dan ibuk sudah berada di
rumah ketika aku sudah terbangun dari tidurku. Dan kali ini aku ingin mengamati
ibuk saat sibuk memasak di rumah. Malam berangkat bekerja, pagi sudah berada di
rumah. Entar agak siangan, ibuk bekerja untuk menjajakan jamunya.
Saat
hari Minggu selepas sarapan pagi bareng ibuk, aku selalu bermain ke rumah
temenku. Ketika aku menuju ke rumah temenku, hampir tetangga sebelah rumah dan
orang tua temenku memandang aku seperti orang yang menjijikkan. Heran, kenapa
orang-orang ini. Setibanya di rumah temen, aku dan temenku hendak pergi untuk
menemui temen-temen yang lain untuk bermain di lapangan. Temenku menyuruhku
untuk menunggu sebentar karena dia mau meminta izin kepada mamanya.
“Ma,
aku mau main sama Galih ya.” Teriak temenku sambil berlalri menuju mamanya yang
berada didalam rumah.
“Sama
siapa? Galih? Mama nggak mengizinkan anak mama bergaul sama anaknya PSK. udah,
kamu di rumah saja." Kata mamanya temenku dengan suara yang keras.
Suara mamanya temenku terdengar jelas di telingaku saat aku di depan
rumah temenku. Kalimat itu membuatku kaget dengan omongan orang tua temenku
itu. Aku pun bergegas untuk cepat pulang dan meninggalkan temenku karena kesal
dengan ucapannya orang tua temenku. Saat berjalan pulang aku terus memikirkan
apa benar ibuk setiap malam hari bekerja sebagai kupu-kupu malam seperti apa
yang diucapkan oleh mamanya temenku.
Setiba di rumah, aku melihat ibuk yang masih sibuk beres-beres rumah.
Aku berhenti sejenak untuk memandangi dan mengamati ibuk tanpa
sepengetahuannya. Aku masih berpikir dan berprasangka buruk kepada ibuk tentang
pekerjaan ibuk saat malam hari. Hatiku merasa sangat kecewa sama ibuk, namun
aku juga kasihan dengan ibuk. Beliau melakukan pekerjaan apapun demi aku. Aku
pun bergegas menuju kamarku. Aku hanya bisa menangis sambil menutup tubuhku
dengan selimut hingga aku tertidur pulas dengan sisa air mata untuk kecewaku
sama ibuk.
Sepulang dari rumah temenku itu, ternyata aku tertidur lumayan lama,
dari siang hingga malam hari ketika ibuk akan berangkat bekerja. Mungkin rasa
kecewaku sama ibuk membuat aku tertidur hingga lama. Saat aku terbangun, aku
belum beranjak dari tempat tidurku. Aku hanya membuka mataku dan melihat ibuk
yang sudah bersiap-siap untuk bekerja. Biasanya ibuk berangkat bekerja malam disaat aku sudah
tertidur. Mungkin ibuk nggak sadar kalo aku sudah bangun. Mungkin aku masih
tergeletak diatas kasur, pikir ibuk aku masih tertidur pulas.
Saat
ibuk akan berangkat bekerja, ibuk meghampiriku di kamar. Dan aku pun bergegas
untuk berpura-pura tertidur dengan memejamkan mataku kembali. Beliau mencium
keningku. Dan ibuk pun setiap akan bekerja malam selalu mencium keningku untuk
menemani tidurku dan kesendirianku disaat ibuk meninggalkanku sendiri di rumah.
Entah
kenapa, tiba-tiba aku berpikir untuk memata-matai ibuk saat bekerja malam.
Karena selama ini aku nggak tahu apa pekerjaan ibuk. Kulihat ibuk telah keluar
dan mengunci pagar rumah, aku bersiap-siap untuk merapikan bajuku dan mengikuti
kemana arah ibuk pergi. Ibuk menumpang becak untuk berangkat bekerja. Aku pun
mengikuti ibuk dengan menumpang becak juga.
“Pak,
anterin saya ya. Itu tuh ngikutin becak yang dtumpangin sama ibuk-ibuk itu ya
pak. Kita jalannya pelan-pelan ya pak. Biar nggak ketahuan.” Ujar aku ke bapak
tukang becak itu.
Dan
becak yang ditumpangi ibuk pun berhenti di salah satu tempat dan ibuk masuk ke
tempat itu.
“Stop stop stop pak. Berhenti dulu ya.”
Aku masih mengamati ibuk sambil duduk di becak yang aku tumpangi itu dan
berharap ibuk segera keluar dari tempat itu. Hampir 15 menit aku menunggu di
becak, aku melihat ibuk keluar dari tempat itu. Beliau jalan ke arah sebuah
taman kota yang biasanya di pakai tempat mangkal para “kupu-kupu malam” yang akan
menjasakan tubuhnya itu. Ibuk tertutup oleh tumbuhan dan mainan yang berada di
taman itu. Aku nggak bisa melihat ibuk. Aku pun berpikir, ternyata selama ini
benar apa yang diomongkan orang-orang tentang ibuk. Aku marah, kecewa sama
ibuk. Ibuk telah membohongiku. Aku hanya tertunduk malu dengan pekerjaan ibuk
saat malam hari.
Tapi ….
“Mas mas. Itu ibu yang mas cari bukan?” Ujar bapak tukang becak saat
memberi tahu aku.
Aku
pun kaget dengan pekerjaan ibuk. Ternyata beliau bekerja seperti ini disetiap
malam.
(Ibuku
saat bekerja di malam hari sebagai tukang sapu jalan)
Akupun
langsung menghampiri ibuk dan memeluk ibuk karena telah berpikiran jelek kepada
beliau. Ternyata selama ini pikiranku selalu negatif tentang pekerjaan ibuk
saat malam hari dan tidak mempercayai ibuk melainkan percaya dengan omongan
orang lain yang belum tentu benar adanya.
Pada
saat itu ibuk memang sengaja berangkat kerja saat malam hari dari pada seperti
hari biasa yang biasanya ibuk berangkat saat menjelang subuh sekitar jam 3
pagi. Tapi beliau berangkat malam hari agar beliau bisa pulang ke rumah tidak
sampai jam 6 pagi. Karena hari itu ibuk harus mengambil raport sekolahku.
Karena itu beliau merelakan waktu bekerjanya menjadi malam hari agar ibuk bisa
menyempatkan waktu untuk ke sekolahku mengambil raportku.
Aku
salut sama ibuk, ibuk sangat perhatian sama aku tetapi aku nggak bisa ngertiin
ibuk. Aku hanya bisa mempercayai apa kata orang dari pada omongan ibuk.
Orang-orang bilang ibuk itu kupu-kupu malam. Emang ibu seorang makhluk yang
lemah, tapi sekarang ibuk bermetamorfosa menjadi seorang kupu-kupu baja.
#HappyMothersDay