Wiiiiiih, ternyata udah lama nggak ngeblog ya. Pantes
blognya udah banyak sarang kimcil dan eek-eeknya yang masih basah. Cairan-cairan
putih berlendir juga nggak kalah banyak ini pada nempel didraft blog. Bener-bener deh kalo nggak sering dipake blognya,
bisa-bisa dijadiin rusun kimcil nih. Iya maaf untuk temen-temen yang setia
membaca blog saya ini. Saya jarang ngeblog akhir-akhir ini. Udah hampir sebulan nggak ngeblog. Emang
sekarang ini jarang ngeblog karena lagi sibuk ngerjain beberapa project. Project yang pertama ini bareng-bareng sama temen SMP sih. Project bikin event reuni SMP. Terus untuk project yang kedua ini project pribadi. Bukan bukan, bukan bikin film 3gp kayak anak SMP
yang sempet bikin heboh itu tuh. Enggak kok. Kita kalo bikin film nggak mau
yang 3gp. Kalo yang 3gp resolusi videonya pecah men. Saya nggak mau ngerusak mood penonton sih sebenernya. Penasaran
ya? Nanti juga dikasih tahu kok saya lagi bikin project apa. Sekarang ini masih dalam proses bikin materinya sih. Semoga
paling lambat akhir tahun mudah-mudahan sudah selesai projectnya. Amiiin.
Oke, saya mau sharing cerita. Mudah-mudahan cerita ini
ada manfaatnya untuk kita. Beberapa hari yang lalu saya lagi berteduh di depan toko. Emang waktu
itu hujannya agak deras dan kebetulan waktu itu saya nggak bawa jas hujan. Saat
menunggu hujan reda sambil menghisap rokok untuk menemani kejenuhan saya
menunggu hujan reda. Saya melihat anak kecil yang sedang kedinginan sambil
jongkok di sebuah agen beras yang bersebelahan dengan toko yang saya tumpangi
untuk berteduh itu. Lalu saya amati kegiatan orang-orang yang berada di agen
beras itu. Belum lama mengamati kegiatan apa aja yang ada di agen beras itu, anak
itu disamperin oleh salah satu orang yang bekerja di agen beras itu disuruh untuk
berada diluar toko. Ternyata gerai toko tersebut mau ditutup sementara karena percikan
air hujan mulai membasahi toko itu. Dan sang anak kecil tersebut masih tetap
setia bertahan di depan agen beras itu. Melihat dia berdiam sendiri di depan
toko, saya pun merasa kasihan dengan anak itu. Saya memanggil dia untuk
bergabung dengan saya dan saya menawari minuman teh botol yang sudah saya beli
sebelumnya. Dengan tujuan agar saya ada teman ngobrol untuk menghilangkan rasa
jenuh menunggu hujan yang tak kunjung reda.
Saya mencoba untuk bertanya dan berbincang-bincang
dengannya. Ternyata dia ini masih kelas 5 SD. Saya penasaran dengan tas plastik
hitam yang selalu di genggamnya itu. Saya pun mencoba bertanya padanya.
“Dek, itu bawa apaan? Kok dari tadi di pegangin mulu tas
plastiknya?”
“Ini mas?”
“Ini beras kok mas. Tuh kan.” Dia sambil melihatkan isi
didalam tas plastiknya itu.
“Oh, habis disuruh ibunya beli beras dek?”
“Enggak mas.”
“Terus?” Tanya saya yang sedikit penasaran.
Dia hanya diam sambil melihat tas plastik hitam yang
dipegang erat-erat.
“Beras ini buat saya, ibuk sama adik mas.” Kata dia
dengan suara lirih.
“Oh. Emang boleh dek beli beras sekilo di agen beras itu?”
“Ini saya nggak beli kok mas.”
“Lah terus?” Tanya saya semakin penasaran dan hampir
menuduh bocah ini mencuri beras.
“Ini ngambilin rontokan beras yang mau diangkutin ke
truck mas.”
“Bentar-bentar dek. Maksudnya ngambilin rontokan beras
satu-satu gitu?”
“Iya, tapi aku pake sapu mas ngumpulinnya. Kelamaan kalo
diambil satu-satu. Nggak bisa dapet banyak.”
“Lah emang orang tuamu kemana dek? Kok kamu malah
kerjanya ngambilin rontokan beras?”
Disini suasana serasa sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha
Esa. Tiba-tiba suasana perlahan-lahan mulai sepi di siang hari itu. Hujan masih
turun dengan derasnya, kita masih mengobrol dengan perbincangan yang semakin
membuat saya penasaran dengan bocah ini.
“Bapak sudah nggak
pulang lagi mas semenjak saya kelas 3 SD. Ibuk sekarang mulai sakit-sakitan. Ibuk
sudah nggak kuat kerja berat-berat mas. Saya juga nggak tahu mas ibuk sakit
apa. Kasihan kalo melihat ibuk di rumah mas.”
Saya yang dari tadi mengamati wajah anak itu, lama-lama
kok anak ini ngomongnya semakin lirih. Saat saya lihat wajahnya, dia sedang
menangis saat bercerita dengan saya. Lalu saya menyuruh dia untuk meminum dulu
sebelum melanjutkan obrolan kita. Dia pun meminum teh botol itu untuk
menghilangkan rasa dahaga dan letihnya itu.
“Berarti tiap hari kamu kesini dek?”
“Iya mas. Sepulang sekolah saya kesini mas untuk mencari
beras buat makan kita bertiga.”
“Emang yang punya agen beras itu nggak mau ngasih beras
ke kamu? Kok ya tega banget ngelihat anak kecil memunguti rontokan beras.”
“Dulu saya sering dikasih beras sama yang punya toko itu
mas. Cuma mungkin ya bapaknya ngerasa capek kali mas sama saya. Soalnya saya
tiap hari kesini untuk menunggu belas kasih yang punya toko itu memberikan saya
beras lagi. Kan waktu saya nggak dikasih beras, saya meminta izin sama yang
punya toko untuk mengambil rontokan beras yang ada di depan tokonya mas. Alhamdulillah
saya dibolehin ngambilin rontokan beras itu mas. Nggak apa-apa mas, yang
penting saya bisa dapet beras untuk makan sama ibuk dan adek saya mas.”
Mendengar ucapan bocah ini seakan-akan saya ditampar sama
seseorang tanpa henti. Saya pun menduduk mendengar ceritanya dia. Dia mencari
beras saja pun susahnya minta ampun. Sedangkan saya saat makan tidak memikirkan
betapa susahnya mencari beras seperti orang-orang yang seperti bocah ini. Kadang
saya makan pun sering nggak habis dan kebuang. Satu butir beras pun berharga
besar banget buat dia dan keluarganya. Ya Tuhan kurang bersyukurnya saya.
Saya pun mencoba bertanya lebih dalam lagi dengan anak
itu.
“Dek, pernah nggak. Adek ini sakit tapi tetep mencari
beras disini?”
“Pernah mas. Sering malahan saya mas. Saat sakit, saya
bela-belain datang kesini mas. Kalo saya nggak datang kesini saya nggak bisa
dapet beras mas.”
“Apa sih dek yang bikin adek ini kok kuat banget
menjalani seperti ini?”
“Mmmmm .... ."
"Apa ya mas?” Kata dia sambil memikirakan jawabannya.
“Yang bikin saya kuat menjalani kayak gini ini ya ibuk,
adek saya sama guru saya mas. Guru saya pernah bilang ke saya kalo saya harus
kuat menjalani ini semua mas. Saya harus tetep sekolah, tetep bertahan hidup
mencari rezeki yang halal. Saya juga dapet keringanan buat bayar sekolah
mas. Alhamdulillah mas, seneng aku.” Ujar dia sambil tersenyum.
“Guru ngaji saya juga bilang ke saya mas, kalo saya harus
tetap bertahan hidup dengan keluarga saya mas. Kata pak ustadz, namanya juga
manusia le, pasti ada susah dan senangnya. Ibaratnya kamu ini sedang memerankan
wayang yang lagi ngalamin musibah le. Pasti ada hikmah dibalik semua rencana
Tuhan ini le. Yang sabar ya le. Lah kata pak ustadz lagi, kalo nggak mau menerima
susah senengnya hidup, mending jangan hidup le. Lah aku masih pengen hidup,
pengen main sama temen-temen mas.” Ujar dia seperti orang tua yang sedang
menasehati anak remaja yang sedang labil.
Setelah berbincang lama dengan saya, dia pun berpamitan
dengan saya untuk kembali ke toko agen beras yang sudah mulai dibuka lagi
gerainya. Hujan pun reda, saya belum berniat untuk meninggalkan tempat duduk saya.
Saya ingin mengamati kegiatan bocah ini saat mengambil sebutir rezeki yang
sangat berharga untuk dia dan keluarganya. Melihat dia semangat untuk mengambil
butiran-butiran beras, membuat saya kembali bersemangat untuk mencari rezeki dan
menjalani kehidupan ini. Dalam hati saya, terima kasih Tuhan, Njenengan sudah memberikan
ilmu dan hidayah dengan dipertemukan sama anak kecil ini. Matur nuwun sanget.
Tadinya judul cerita ini pengen saya kasih nama anak
kecil itu. Sayangnya, saya lupa dan belum sempat untuk bertanya siapa nama anak
kecil ini. Tapi enggak apa-apa, semoga dia menjadi anak yang sholeh dan
berbakti dengan orang tuanya. Menjadi kepala rumah tangga di usia yang sangat belia
membuatnya menjadi bocah kecil yang kuat untuk menjalani kehidupan yang keras
ini. Terima kasih si kecil yang kuat sudah mengingatkan untuk bersyukur dan
belajar menjadi kuat itu butuh perjuangan.
Wrote by Unknown
