“Mas … Mas … “
Sukri dan Tiwul pun berhenti
berargumen dan menoleh kedua anak kecil itu.
“Ini lagi jum’atan. Jangan
ngobrol.” Ujar adek-adek berbadan kurus.
“Kata Bang Jarwo, orang yang
ngobrol saat jum'atan nanti didatengin malaikat izroil.” Teriak adek yang berbadan gemuk. Dan kedua
anak kecil ini pun tertawa lantang.
Setelah mencoba menegur
Sukri dan Tiwul, adek-adek gemes itu pun langsung pergi berlalu meninggalkan
mereka berdua.
“Udah denger kan mas? Ati-ati, ngeri loh.” Ujar kakek-kakek yang duduknya
bersebelahan dengan Sukri.
Sukri dan Tiwul pun akhirnya terdiam, lemas, pucat dan pingsan setelah ditegur sama kedua bocah tadi.
Setelah sholat Jum’at, Tiwul
seperti biasa bermain ke rumah Sukri. Tiwul langsung menuju ke kamar Sukri
untuk mencari sahabatnya itu.
“Lah, nih anak kemana kok
nggak ada di kamar.” Tiwul mencoba mencari di tempat lain.
Tiwul melihat Sukri
duduk-duduk santai sambil merenung di bawah pohon anggur.
“Lo tadi gue cariin, taunya
lagi nyantai disini. Ngapain sih Kri disini? Mending di kamar aja lah. Gue mau
PSan nih.”
Sukri hanya diam saja.
“Kri … Kri … lo denger gue
ngomong kan?” Tanya Tiwul menepuk pundak Sukri.
Sukri masih diam dan tidak
menghiraukan keberadaan Tiwul yang duduk di sebelahnya.
“Lo masih ngambek masalah
pas jum’atan tadi?”
Sukri lalu menoleh kearah
Tiwul.
“Gini ya Wul, lo Kalo emang
mau totalitas ya lo harus fokus sama yang lo kerjain. Permasalahannya ini kan
elo kerjaannya cuma sebagai tukang bersih-bersih masjid aja kan? Nah terus
ngapaian lo pake ikutan mau bikin film pendek sama pemuda sini?” Ujar Sukri dengan emosi.
“Eheemmm … .”
“Assalamualaikum …”
Sukri dan Tiwul pun menoleh
kearah suara seseorang yang mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam … “
“Eh .. Lik Dar.” Sukri pun
langsung menyalami tangan Lik Dar dan diikuti dengan Tiwul juga ikut menyalami
Lik Dar.
“Kapan nduginipun Lik?”
“Baru aja. Tadi Lik Dar
teriak-teriak sambil naik ke pagar rumahmu buat mastiin ini rumah ada orangnya
apa enggak, eh taunya pada di halaman belakang.” Lik Dar ini pamannya Sukri
yang berasal dari Jogja.
“Monggo Lik.” Tiwul mempersilahkan Lik Dar untuk duduk diatas rumput
taman yang sudah ditaburi pecahan beling dan paku payung.
Sukri buru-buru kedalam
rumah untuk mengambil kursi lipat yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai
dan bisa juga digunakan untuk kasur.
“Ada acara apa Lik kok datang
kesini?” Tiwul mencoba untuk membuka obrolan dengan Lik Dar.
“Yang pertama Lik Dar ada
kerjaan survey lokasi syuting ke daerah sini untuk bikin film. Kebetulan juga
deket toh sama rumahnya Sukri. Sekalian Lik Dar silaturahmi kesini.”
Tiwul cuma mengangguk aja
ketika dia mendengar perkataan Lik Dar.
“Tadi Lik Dar sempet lihat
kalian kayaknya lagi berantem. Kalian ini lagi berantem kenapa toh?”
“Oh, eng … .”
“Gini loh Lik, iya emang
bener. Kita berdua sedikit ada perbedaan pendapat aja sih Lik. Saya kan kerjaannya cuma tukang bersih-bersih masjid aja. Lah kebetulan saya
ini diajakin pemuda sini untuk bikin project film pendek sekaligus bantu-bantu
mereka Lik. Kebetulan saya juga dapat peran sebagai muadzin untuk orang-orang
yang mau dimakamin dan saya didapuk sebagai PU di projectnya mereka Lik. Kan
ini pengalaman pertama saya di bidang film. Saya juga belom pernah ngerjain
hal-hal yang kayak gini ini Lik. Mumpung ada kesempatan ya saya terima dengan
senang hati. Eh, tapi Sukrinya malah marah pas dia denger kalo saya nerima
project ini.” Tiwul memotong pembicaraan Sukri dan menceritakan panjang
lebar keluh kesahnya kepada Lik Dar.
“Gue belom ngomong sampai abis, lo udah nyerocos aja Wul.”
“Gue nggak betah kalo
ditahan-tahan kri. Makanya mending gue certain aja ke Lik Dar.”
“Jadi menurut pendapat Lik
Dar gimana?” Tanya Sukri yang terlihat sangat antusias untuk mendengar jawaban
dari Lik Dar.
“Bagus … Bagus itu.”
“Tuh kan Kri. Lik Dar aja
bilang bagus. Masa lo nggak ngedukung gue.”
“Lo tuh di project film itu
kebanyakan jadi PU doang Wul.”
“Lah emang gue PU. PU kan
kepanjangannya Pemeran Utama Kri. Gimana sih lo.” Tiwul terlihat sewot ketika
Sukri mencoba merendahkan peranannya di project film itu.
“Nih anak geblek banget sih.
PU tuh kepanjangan dari PEMBANTU UMUM. Lo bakal disuruh-suruh untuk ngambilin
barang-barang dan keinginan talent.
Inget ya Wul, PU tuh PEM .. BAN .. TUU .. .” Sukri mencoba menjelaskan
peranannya Tiwul itu apa.
“Lik Dar kan kerja di bidang
film juga nih. Emang bener PU tuh pembantu Lik?” Tiwul mencoba bertanya kepada
Lik Dar untuk memastikan kalo peranannya dia itu sebagai pembantu.
Lik Dar tersenyum sambil
mengangkat kedua alisnya untuk menandakan kalo Lik Dar itu menjawab
iya.
“Emmm … Ya nggak masalah
juga Kri. Awal-awal jadi PU, siapa tau gue bisa jadi PU beneran alias pemeran
utama. Lagian kan gue juga dapat jatah syuting memerankan sebagai ustadz yang
sedang mengadzani orang yang mau dimakamin. Itu kan peran yang penting juga
Kri. Dapet pahala lagi.” Tiwul mencoba menjelaskan kepada Sukri yang sebenarnya
itu untuk mencari alasan aja buat membela dirinya.
“Wes-Wes. Nggak usah berantem lagi. Begini, Pak Lik sangat sangat
ngedukung banget apa yang dilakukan oleh Tiwul. Soalnya apa? Tiwul selama ini
kan kerjanya cuma sebagai tukang bersih-bersih masjid aja toh. Nah ketika ada
kesempatan untuk diajak mengerjakan project film pendek ini, Tiwul mengiyakan
ajakan pemuda sini tuh sudah merupakan langkah yang bagus banget. Ya meskipun
jadi PU dan dapat peran yang dikit. Itu sih nggak masalah menurut Pak Lik. Karena
kalian ini kan masih muda, jadi ya lakukan aja hal-hal yang belom pernah kalian
kerjakan sebelumnya. Tapi inget, yang positif loh ya yang dilakukan itu. Jangan
make narkoba. Itu haram. Jadi ya kalo kalian dapat kesempatan bikin project apa
aja yang menurut kalian bagus ya kerjakan aja. Meskipun kalian nggak dapet
apa-apa di project itu, setidaknya kalian udah dapet pengalaman.”
“Contohnya kayak Pak Lik
ini. Pak Lik kan cuma seorang petani aja, lah kebetulan dulu Pak Lik ditawari
main film sama temen Pak Lik. Dari yang awalnya cuma sebagai tukang
bersih-bersih lokasi shooting, terus sekarang Pak Lik jadi sutradara, pemain dan
penulis skenario film JAV. Akhirnya apa? Sekarang Pak Lik bisa keliling ke berbagai
Negara. Entah itu di Jepang, Amerika, Thailand, London, Italia, Belanda,
Brasil, Kazakhstan dan masih banyak lagi. Coba aja waktu itu Pak Lik nggak
nerima tawaran temennya Pak Lik. Mungkin Pak Lik nggak bisa keliling dunia
sampai sekarang. Pak Lik juga masih tetap bisa jadi petani, kalo ada tawaran
bikin film ya bikin film. Jadi ya dari pengalaman Pak Lik yang menjadi tukang
bersih-bersih lokasi syuting, sekarang jadi bisa dapet penghasilan double. Eh, triple deh. Enak kan? Jadi ya lakukan aja apa yang kamu suka, selama itu
nggak ngerugiin orang lain ya nggak usah dihiraukan omongan orang Wul.”
“Buat Sukri. Kasih
kesempatan temenmu ini deh. Biar dia punya pengalaman lebih. Siapa tau
rezekinya dia ada disana. Lagian kamu mbok
ya jangan terlalu mengkotak-kotakkan gitu toh Kri. Orang otomotif ya masa
harus selalu ngerjain motor dan mobil tok?
Ya nggak apa-apa sih kerja sesuai dengan bidang yang dulu pernah dia pelajari
saat di sekolah. Kalo dia punya bakat lain terus nggak digunakan juga sayang banget
itu bakat yang lainnya nganggur nggak kepake. Contohnya kayak Lik tadi. Terus
kayak Erix Soekamti. Dia kan bassist
dan vokalis band Endank Soekamti. Tapi dia mengerjakan film juga. Coba aja kalo
dia nggak nyoba-nyoba bikin film, ya mungkin dia nggak ada keahlian lain selain
jadi anak band aja.”
“Mumpung kamu sama Tiwul ini
masih muda, jadi ya lakukan aja yang kamu suka. Jadi pemuda itu yang sedikit
liar gitu loh. Tapi bertanggung jawab yah. Maksudnya liar ide-idenya, liar
gagasannya yang out of the box, liar actionnya dll. Jangan jadi pemuda yang
melempem lah, pemuda kok masa gitu. Jangan kalah sama mbah mbahmu yang dulu.
Biar kalian ini jadi pemuda yang keren.”
Cerita diatas tadi merupakan
kejadian beberapa hari yang lalu ketika gue sedang nongkrong santai di sebuah
taman deket rumah mantan calon gebetan. Gue ketemu seorang bapak-bapak dan dua
anak muda yang kelihatannya masih sekolah SMA. Gue nggak ngerti, dua anak ini
masih sekolah apa enggak. Soalnya muka mereka udah kelihatan tua sih. Tapi
anggap aja mereka masih SMA lah. Dan inti obrolan mereka bertiga nggak jauh
beda dengan apa yang udah gue ceritain diatas. Cuma nama karakter, tempat dan
ceritanya yang sedikit gue modif. So, semoga postingan gue kali ini sedikit ada
manfaatnya buat kita semua. Terima kasih banyak buat kalian yang masih tetap setia
dan mau meluangkan waktu buat baca blog gue. See ya :D
Wrote by Unknown

