Diremehkan? Rausah Khawatir.
![]() |
| Pict by Instagram @faridstevy |
Beberapa hari yang lalu pas lagi buka-buka Instagram, ada postingannya Mas Farid Stevy FSTVLST yang diatas itu jadi mengingatkan cerita temen gue Sukri dan Tiwul saat lebaran kemarin.
Waktu itu, Sukri berniat untuk mengajak sahabatnya Tiwul liburan ke rumah neneknya Sukri yang berada di daerah Yogyakarta. Karena Tiwul tidak mudik ke kampung halamannya di daerah Ngonini, Afrika. Makanya Sukri sengaja mengajak Tiwul untuk liburan bersama. Disaat liburan tiba, Sukri sering merasa iba kalo melihat Tiwul yang jarang merasakan benar-benar liburan. Karena Tiwul setiap harinya harus bekerja untuk membersihkan masjid yang berada di komplek tempat tinggalnya Sukri.
“Wul, lo mau
ikut gue nggak ke rumah nenek gue yang di Jogja”? Tanya Sukri ke Tiwul yang
lagi asyik duduk-duduk santai di bawah pohon dekat masjid.
“Kapan Kri?”
“Rencananya sih
berangkat besok Wul. Gimana lo? Mau ikut gue nggak? Daripada lo disini nggak
ada temennya. Kalo lo mau ikut gue ke Jogja buruan packing baju-baju lo sekarang.” Sukri lalu meninggalkan Tiwul sendirian.
Akhirnya Tiwul
mengiyakan ajakan Sukri untuk berlibur bersama ke Jogja. Singkat cerita, saat
liburan di Jogja hampir setiap menjelang siang hari mereka berdua selalu membawakan
makanan untuk pamannya Sukri yaitu Lik Darsono yang bekerja di sawah tepat berada
di belakang rumah neneknya Sukri.
“Wul, lo tunggu
di gubuk dulu ya. Gue mau manggil Lik Dar dulu.”
Tiwul cuma
mengangguk dan berlalu menuju jalan setapak sawah yang dekat dengan sungai
kecil yang digunakan sebagai pengairan sawah untuk mencuci kakinya yang kotor
karena habis menginjak kotoran ayam. Nggak berapa lama si Sukri kembali ke gubuk dengan
ditemani pamannya untuk makan siang bersama, Setelah makan siang bersama, Tiwul
duduk-duduk santai di pinggir sungai kecil yang tidak jauh dari gubuk.
“Wul Tiwul, kamu
itu kenapa toh le? Dari tadi Lik Dar
liatin kamu itu kok lemes biiyanget. Lagi nggak enak badan opo?” Ujar Lik Dar dengan logat bicaranya yang medok sambil
menyalakan rokok kreteknya.
“Nggak ada
apa-apa kok Lik.” Tiwul menjawab sambil memukul-mukulkan batang rantai di air sungai
yang berada tepat di depannya.
“Kalo nggak ada
apa-apa, nggak mungkin kamu kelihatan kayak orang yang nggak bergairah gitu.”
“Dia habis putus
sama ceweknya Lik. Gara-gara orang tua ceweknya nggak setuju kalo anaknya pacaran
sama Tiwul.” Sahut Sukri sambil membersihkan bekas makanan.
“Nggak kok Lik.
Sukri ngapusi.” Tiwul sambil melihat
ke arah Sukri dengan tatapan kesal.
“Hehehe … .” Lik
Dar tertawa ketika melihat Tiwul kesal sama Sukri.
“Oalah masalah
cewek. Ada apa toh? Cerita aja sama Pak Lik. Siapa tau Pak Lik bisa ngasih
solusi ke kamu Wul. Gini-gini kan Pak Lik juga pernah muda kayak kamu le.”
“Udah lo cerita
aja sama Lik Dar. Dari pada dipendem sendiri bisa-bisa stres entar lo Wul.”
“Gini loh Lik.
Dua hari yang lalu saya disuruh putus sama orang tua cewekku Lik. Gara-garanya
…. .” Tiwul tertunduk dan tidak melanjutkan pembicaraannya.
“Gara-garanya
kenapa toh Wul?” Ujar Lik Dar yang terlihat kepo.
“Gara-garanya
aku kan nggak kuliah Lik. Terus kerjaanku sekarang ini cuma bersih-bersih
masjid aja toh Lik. Lha orang tua
cewekku ini nggak setujunya karena takut nanti kalo anaknya benar-benar jadi
sama aku mau dikasih makan apa. Soalnya kerjaanku kan cuma itu tadi Lik. Aku
langsung shock Lik pas dikasih tau sama cewekku kayak gitu.”
“Terus kamu piye Wul?” Lik Dar terlihat sangat
antusias mendengar curhatannya Tiwul.
“Ya aku ngomong
ke cewekku gini Lik.”
(Yang, kamu gimana? Mbok ya jangan diem aja.
Aku juga bingung kalo disuruh gini. Tapi jujur ya Yang. Aku tuh masih sayang sama kamu,
aku masih pingin sama kamu. Soalnya kamu selalu jadi semangatku untuk mengejar
cita-cita, aku jadi rajin kerja, aku juga udah mulai mengurangi kebiasaan
jelek-jelekku. Berat rasanya Yang kalo aku disuruh pisah sama kamu. Tapi kalo aku disuruh milih, aku tetap milih nggak mau putus
sama kamu Yang. Aku tuh juga berusaha biar bisa bahagiain kamu. Aku juga pingin buktiin
juga ke mamamu kalo aku juga bisa jadi orang sukses dengan caraku sendiri. Lagian
mama kamu udah kayak Tuhan aja deh Yang. Udah bisa menentukan takdir orang, siapa
tau 5 tahun lagi aku bisa jadi orang sukses. Tuhan aja masih ngasih kesempatan
bagi umatnya yang mau berusaha bakal bisa jadi orang sukses. Lha mamamu ini
udah nggak ngasih kesempatan, sotoy lagi. Sebel juga aku Yang dibilang mamamu
kalo aku nggak punya masa depan.)
“Habis ngomong
gitu lha kok cewekku langsung mutusin aku hari itu juga dan ninggalin aku sendirian
di komplek pemakam cina. Makanya beberapa hari ini hatiku masih dalam suasana
duka Lik Dar. Jadi mohon pengertiannya Lik”
Mendengar cerita
Tiwul yang seperti itu membuat Lik Dar tertawa terpingkal-pingkal sampai membuat Lik Dar batuk-batuk karena nggak sengaja ada beberapa lalat yang masuk ke mulutnya Lik
Dar disaat beliau lagi tertawa terbahak-bahak.
“Minum dulu Lik!
Biar nggak batuk-batuk. Ini minumnya.” Ucap Sukri sambil memberikan segelas air
minum berwarna coklat yang barusan diambil dari sungai kecil dekat sawah.
“Haduuh, lega
bener.” Ujar Lik Dar setelah minum dan beliau mencoba untuk menenangkan dirinya
sebentar.
Setelah dirasa
udah agak enakan, Lik Dar melanjutkan ngobrol-ngobrolnya lagi dengan Tiwul dan
Sukri.
“Oalah Wul Wul. Omongan
orang tuanya cewekmu nggak usah dimasukin ke hati kayak gitu. Kalo
dipikir-pikir lagi malah ada untungnya juga loh kamu direndahain atau diremehin
sama orang lain itu Wul.”
“Lah? Kok jadi
untung toh Lik? Yang namanya
direndahin sama orang lain ya jengkel lah Lik. Malah ini dibilang untung.
Untung dari mananya toh Lik? Rugi
iya.” Ketus Tiwul sambil melempar batu besar ke sungai kecil yang berada di
depannya yang membuat bajunya menjadi basah kuyup.
“Beberapa
keuntungan kalo kita direndahin atau diremehin sama orang lain itu tuh ini loh
Wul.”
Ini buat
orang-orang yang bisa ngendaliin amarahnya, jengkelnya, dendamnya ketika dia
sedang di rendahin orang lain. Kalo dia bisa ngendaliin semua nafsunya dan
semua dendam, amarah, jengkelnya itu dijadiin pematik atau pemicu untuk
membuktikan ke orang-orang yang sudah merendahkannya kalo dirinya itu tidak
pantas direndahkan. Nah ketika orang-orang yang dianggap rendahan atau
diremehkan ini saat dalam proses untuk pembuktian, biasanya mereka memiliki
energi dan semangat yang lebih dibandingkan dengan orang-orang yang tidak
pernah mengalami diremehkan atau direndahkan oleh orang lain.
- Memperkuat Mental
Secara sadar
maupun tidak sadar, kalo kita sedang dalam posisi orang yang sedang direndahin
atau diremehkan itu merupakan suatu proses pembentukan mental kita untuk
menjadi orang yang lebih kuat lagi ketika sedang menghadapi masalah berikutnya.
![]() |
| Pic by http://dungeons.wikia.com/wiki/Saiyan_(3.5e_Race) |
- Disaat Posisi Yang Lagi Down, Banyak Ide Untuk Membuat Karya
Hampir setiap orang selalu merasakan ngedown ketika dirinya direndahin atau diremehin orang lain. Disaat lagi ngedown, banyak orang-orang yang nggak mau ngapa-ngapain karena masih belom terima dengan perkataan atau tindakan orang lain yang sudah merendahkan dirinya. Sebetulnya waktu kita lagi ngedown itu merupakan posisi yang strategis untuk membuat sebuah karya. Karena disaat kita berada di titik terendah itu sangat mudah untuk mencari ide, mencari konsep ataupun gagasan seperti yang pernah dikatakan oleh Mas Erix Soekamti di video DOES dibawah ini
Hampir setiap orang selalu merasakan ngedown ketika dirinya direndahin atau diremehin orang lain. Disaat lagi ngedown, banyak orang-orang yang nggak mau ngapa-ngapain karena masih belom terima dengan perkataan atau tindakan orang lain yang sudah merendahkan dirinya. Sebetulnya waktu kita lagi ngedown itu merupakan posisi yang strategis untuk membuat sebuah karya. Karena disaat kita berada di titik terendah itu sangat mudah untuk mencari ide, mencari konsep ataupun gagasan seperti yang pernah dikatakan oleh Mas Erix Soekamti di video DOES dibawah ini
- Jadi Bahan Introspeksi Diri Sendiri
Misal:
"Udah deh Wul, lo jangan harap bisa jadian sama si Fika deh. Lo aja orangnya nggak pede. Gimana lo bisa ngomong suka sama dia. Yang ada entar lo malah mimisan kalo udah tatap muka sama dia."
Dari contoh diatas udah tau kan apa yang harus diperbaiki dari diri si Tiwul agar bisa dekat sama Fika?
Pada intinya, ketika orang lain meremehkan atau merendahkan kita dengan berbagai celaan dan kadang-kadang hinaan yang bikin hati ini merasakan pedih. Tapi ada satu pesan yang kadang tidak kita sadari yaitu KITA DISURUH UNTUK MENJADI PRIBADI YANG LEBIH BAIK DARI HARI INI ATAU SEBELUMNYA. Satu pesan yang sangat berguna bagi kita yang tidak kita ketahui karena kita sudah dibutakan dengan perasaan marah yang muncul lebih dahulu sehingga "pesan" dari orang lain itu tidak sampai ke otak dan hati kita.
So, nggak perlu marah dan kecewa saat kita dilukai hatinya karena itu malah bikin kita buang-buang waktu dan energi saja. Buat kalian yang punya pengalaman pernah diremehin oleh orang lain bisa kalian ceritakan di comment box dibawah. Gue ucapin terima kasih sebanyak-banyaknya buat kalian yang masih sempatin buat mampir ke blog gue. Semoga ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Sekali lagi thanks banget buat kalian semua gaes. See ya :D





6 komentar
tergantung kita, kalau diremehkan pastinya mau membuktikna kalau kita bisa. Ada yang langsung membuktikannya dengan kerja ekras ada yang susah move on hanya pikiran saja
BalasHapusyap, semuanya balik lagi ke orangnya masing-masing. terima kasih ya :)
Hapusorang-orang yang dulunya direndahin malah biasanya jadi lebih hebat daripada orang yang merendahkannya.
BalasHapusbiasanya kayak gitu. tapi balik ke orangnya masing-masing lagi kalo dianya bisa merubah dirinya labih baik. it's good. btw thanks ya
HapusSetuju, saat direndahkan harusnya menjadi cambuk untuk lebih maju. Jangan hanya dipikirkan sakit hatinya saja http://goo.gl/aXPgvt
BalasHapusyoi bro. kalo mikirin sakit hatinya aja bisa-bisa malah nambah beban. thanks yo.
Hapus