Perlunya Menjadi Minoritas
Selama bulan ramadhan,
Sukri masih masuk ke sekolah karena sekolahnya dia tidak meliburkan
siswa-siswinya disaat bulan ramadhan. Sekolahnya Sukri mempunyai aturan
sendiri, kalo disaat perayaan hari besar agama lain, sekolahnya Sukri cuma
libur disaat tanggal merah doang. Terus kapan sekolahnya Sukri libur panjang?
Libur panjang di sekolahnya Sukri disaat ada gerhana matahari dan gerhana
bulan. Kalo ada gerhana matahari liburnya 6 bulan, sedangkan kalo ada gerhana
bulan maka sekolahnya libur 3 bulan. Kalo nggak ada gerhana matahari dan
gerhana bulan, dipastikan siswa-siswinya lulus sekolah langsung daftar menjadi
pasien RSJ karena kurangnya liburan di sekolah Sukri.
Suatu hari Tiwul sedang
main ke rumahnya Sukri.
“Kri, gue heran ama
peraturan sekolah lo itu.”
“Heran kenapa sih?” Tanya
Sukri.
“Harusnya kan sekolah lo libur kayak sekolah-sekolah yang lain, jadi selama bulan ramadhan ini lo bisa
libur satu bulan. Eh, ini malah masih masuk sekolah dan liburnya cuma dua hari
doang.”
“Terus permasalahannya
dimana?” Sukri nanya balik ke Tiwul.
“Enggak, kan sekolah lo mayoritas siswa-siswinya bukan muslim tuh. Gue kasihan sama lo kri. Disaat
anak-anak sekolah lain puasa di rumah dan bisa tidur-tiduran, eh elu malah
ngiler ngeliatin temen-temen lo lagi enak-enaknya minum es di kantin. Terus
temen-temen lo gimana tuh sikapnya ke elu disaat lo lagi puasa kayak gini?”
“Udah? Apa ada yang mau lo
tanyain lagi Wul?”
“Dari tada gue nanya mulu
nggak lo jawab-jawab, males ah gue”. Kata Tiwul yang sedikit ngambek.
“Lo kalo ngambek malah
kayak banci mangkal di bawah flyover.”
“Taek su.” Tiwul yang
ngambek langsung mengencingi badan Sukri yang jongkok disebelahnya Tiwul.
“Serius gue Wul, ada yang
mau lo tanyain lagi nggak? Biar sekalian gua ngejawabnya.”
“Oh iya, ada satu lagi
Kri. Lo kenapa sih masih bertahan di sekolah yang mayoritas siswa-siswinya non
muslim? Lo nggak kepikiran buat pindah sekolah gitu kek ke sekolah yang siswa-siswinya mayoritas muslim? Lo kan di sekolah jadi kelompok minoritas
nih, terus apa untungnya coba jadi sebuah minoritas?”
“Hmmm … oke … .”
“Sekarang gue jawab
pertanyaan lo yang pertama. Gimana sikap temen-temen gue disaat gue puasa dan
mereka tidak? Mereka sangat menghormati gue Wul. Mereka nggak ada yang berani
makan seenaknya didepan gue karena mereka juga merasa nggak enak ke gue, gue juga nggak nyuruh mereka untuk makan didepan gue tapi itu inisiatif mereka sendiri
dan gue salut sama mereka.”
“Pertanyaan lo yang kedua,
kenapa gue masih bertahan di sekolah itu? Karena gue mendapatkan apa yang gue butuhin di sekolah itu Wul. Misal, lo tau kan sekolah gue sering banget dapet
prestasi? Nah, gue pengen belajar sama orang-orang yang berprestasi itu Wul. Gue pengen tau gimana cara belajarnya mereka, cara proses kreatifnya mereka, cara kerja
kerasnya mereka kok bisa sampe berprestasi gitu. Terus, belum lagi fasilitasnya
yang lengkap dan memadai. Pokoknya apapun yang gue butuhin buat belajar,
sekolah gue bisa memberikan fasilitas yang terbaik buat siswa-siswinya Wul.”
“Selanjutnya pertanyaan
yang ketiga, apa untungnya menjadi bagian dari kelompok minoritas?”
1. Tau Rasanya Betapa
Pentingnya Menghargai Orang Lain
Kok gitu? Lah gue kan
termasuk kelompok minoritas di sekolah, terus kalo gue nggak bisa menghargai
temen-temen gue yang lain, bisa-bisa gue di sekolah nggak punya temen dan
mereka bakal mencaci maki gue dong. Misal, ketika mereka sedang beribadah ya
gue berusaha untuk tidak mengganggu mereka beribadah. Dan saat gue udah
berusaha untuk menghargai mereka, dengan sendirinya mereka juga bakal
menghargai kita balik kok. Dengan begitu lo bakal tau pentingnya menghargai orang
lain.
2. Belajar Berprinsip
Ketika gue pertama kali
masuk sekolah itu, gue ngerasa banyak banget kebiasaan-kebiasaan yang belom
pernah gue temui sama sekali yang mau nggak mau harus gue hadapi. Misal, ketika
temen gue ulang tahun dan gue nggak tahu ternyata dihidangan makanan acara
ulang tahunnya itu ada menu makanan yang menggunakan daging babi. Nah,
kebiasaan dari keluarga temen gue tuh disetiap ulang tahun keluarganya selalu
ada hidangan daging babi dan minum alkohol. Gue nggak ngerti kenapa keluarganya
selalu menghidangkan daging babi disaat ada peryaan ulang tahun dan diakhiri
dengan minum alkohol. Tapi saat itu gue nolak secara halus meminta pengertian ke
temen gue untuk tidak makan daging babi dan minum alkohol sama mereka, untungnya
temen gue ngerti kalo di agama gue mengharamkan memakan daging babi dan minum
alkohol. Nah, disaat seperti itu gue ngerasa udah dihormati sama temen gue dan
gue belajar banget untuk tetap menjaga peraturan agama gue.
3. Tidak
Mengkotak-kotakkan Mana Kelompok/Agama Yang Baik Atau Buruk
Kalo lo berada di kelompok
minoritas, elo nggak bisa mengklaim kalo kelompok A atau kelompok B, atau
kelompok Z dll itu kelompok yang baik ataupun buruk. Kenapa? (Ini kan gue masih
dalam konteks dimana gue waktu di sekolah). Jadi gue awalnya mengira kalo agama
temen gue tuh salah. Dan yang bener tuh agama gue. Ternyata setelah lama gue
berteman dan sedikit mengerti budaya mereka, ternyata selama ini yang gue kira
ke temen gue tuh salah dan sebetulnya nggak seperti itu. Malah gue semakin
yakin kalo setiap agama tuh mengajarkan kebaikan, cuma caranya berbeda-beda
sesuai dengan aturan agama masing-masing. Dan ternyata yang salah itu bukan
agamanya tetapi individu-individu yang kurang memahami tentang agama dan
tuhannya.
4. Melatih Mental
Contohnya gini, Sukri kan berasal dari Surabaya dan sekarang Sukri tinggal di wilayah Jakarta untuk
melanjutkan kuliah S1. Sukri hijrah dari kota asal ke kota lain. Nah, waktu
pertama kali Sukri singgah di Jakarta kan dia termasuk satu dari 4 mahasiwa di
kampusnya yang berasal dari Jawa. Karena dia berasal dari Jawa Timur, logat bicaranya dia
sangat sangat medok khas Surabaya. Karena dia kalo bicara sangat medok, dia
sering sekali dibully temen-temennya selama kuliah.
Awalnya dia sangat kesal
dengan teman-temannya yang selalu ngata-ngatain gara-gara logat bicaranya Sukri
yang makin hari makin tambah medok. Tapi Sukri tidak patah semangat untuk tetap
kuliah setiap hari meskipun bully dan tekanan dari temen-temennya selalu
menghampiri. Dia berkeyakinan kalo medoknya dia tuh nggak akan berpengaruh sama
kelulusan kuliahnya dia. Dia juga bersyukur menjadi mahasiswa yang sering
dibully sehingga membuat dirinya menjadi mahasiswa yang bermental baja. Karena
menjadi mayoritas bukan berarti bisa mengubah identitas si minoritas ini dan menjadi minoritas itu bisa saja membuat seseorang menjadi makhluk yang berkualitas.
5. Be Your Self
Yap, ketika lo menjadi
seseorang atau didalam kelompok minoritas, itu akan menjadi sebuah pelajaran
berharga buat lo untuk menjadi diri lo sendiri. Ketika lo digempur dengan
kebudayaan-kebudayaan kelompok mayoritas yang dimana elo kurang setuju atau itu
menunjukkan bukan jiwa lo atau itu bukan lo banget, maka saatnya elo buktiin
kalo lo mampu, lo bisa mandiri dan lo bisa keren tanpa mengikuti kebudayaan
mereka. Karena menjadi diri sendiri itu merupakan bentuk perlawanan tanpa
berujung permusuhan.
Think about it. :)
So, buat temen-temen yang lulus SMA/SMK siap-siap menjadi minoritas di kampus atau temen-temen yang di kelompok minoritas, kalian itu diibaratkan manusia yang lebih banyak belajar dan berbenah diri dibanding dengan mereka yang mayoritas. Jangan berkecil hati, tetap semangat dan jangan menyerah untuk mengejar mimpi kalian.
So, buat temen-temen yang lulus SMA/SMK siap-siap menjadi minoritas di kampus atau temen-temen yang di kelompok minoritas, kalian itu diibaratkan manusia yang lebih banyak belajar dan berbenah diri dibanding dengan mereka yang mayoritas. Jangan berkecil hati, tetap semangat dan jangan menyerah untuk mengejar mimpi kalian.
Oke, mungkin segitu dulu share dari kita, ternyata ada hikmahnya juga menjadi sebuah/kelompok minoritas. Kalo kalian ada ide untuk nambahin "apa sih untungnya jika menjadi sebuah/kelompok minoritas atau juga kalian bisa berbagi cerita/pengalaman yang unik ketika kalian menjadi seorang/kelompok ” bisa di share di comment box. see ya. :)

6 komentar
Iya setuju! Minoritas bukan penghalang dari semua jalan. Justru, disaat posisi kita dalam minoritas, kita harus buktiin bahwa kita itu nggak terhalang sama penghalang. Keren!
BalasHapusThat's right. terima kasih :)
HapusBtw semester berapa si sukri? pemikirannya bagus juga... ^,^
BalasHapussi sukri baru jadi maba.
HapusPostingan ini sarat akan makna banget. Keren!
BalasHapusterima kasih bro :)
BalasHapus