Ada salah satu masjid di komplek Sidowaras terdapat anak
laki-laki berusia 17 tahun yang hidupnya ini mengabdi di sebuah masjid. Anak
ini bernama Tiwul. Dia bukan asli penduduk komplek Sidowaras, tapi dia asli
dari daerah pelosok Maluku. Dia hanya tinggal sendiri di masjid itu. Tidak dengan
keluarganya yang berada di Maluku. Bagaimana dengan makannya dia selama ini? Setiap
harinya dia ini bekerja membersihkan masjid di komplek itu. Dia digaji oleh
pengurus masjid, uang dari gaji membersihkan masjid itu lah yang digunakan dia
untuk bertahan hidup.
Dia di komplek itu juga mempunyai seorang teman yang
seumur dengannya. Namanya Sukri, anak yang berbadan pendek dan berkulit hitam
ini sangat baik sekali dengan Tiwul. Jika Sukri memiliki makanan lebih, dia
selalu ingat Tiwul dan bersedia untuk berbagi makanan. Saking baiknya Sukri,
sampai-sampai saat Sukri kelebihan celana dalamnya, Sukri pun rela berbagi
celana dalam bekasnya yang sudah lama berjamur untuk Tiwul.
“Wul, ini aku mau kasih celana dalamku. Ada satu kardus. Masih
bagus-bagus kok. Tapi semuanya belum tak cuci. Sekalian cuciin sekalin ya.”
“Oh arek edan.”
Saat itu selepas isya’ gema takbir serentak
dikumandangkan di setiap masjid ataupun musholla di komplek Sidowaras. Semua orang
pun bersuka cita dengan datangnya hari raya idul adha umat islam. Orang-orang
komplek Sidowaras pun juga ikut bersemangat menyambut hari raya idul adha tahun
ini. Termasuk dua bocah yang saling akrab tadi, Tiwul dan Sukri.
Semua anak muda komplek berkumpul menjadi satu di
pelataran masjid untuk bersiap-siap melakukan takbir keliling dengan dibantu
anak-anak remaja masjid. Tiwul dan Sukri pun begitu antusias dengan acara
takbir keliling itu.
Dari dulu Sukri ingin menjadi pemukul bedug saat acara
takbir keliling, karena hanya orang-orang tertentu yang bisa menjadi pemukul
bedug. Tiwul tidak bisa mengikuti acara takbir keliling karena dia mendapatkan
tugas sebagai panitia penerima hewan kurban di masjid itu. Jadi dia harus
berada di masjid karena untuk jaga-jaga setiap saat jika ada warga yang akan menitipkan
hewan kurbannya ke masjid. Tiwul yang menjadi panitia penerima hewan kurban
itu. Saat acara takbir keliling Tiwul sangat sibuk sekali menerima banyaknya
hewan kurban dari wagra sekitar. Dan Sukri bersama dengan anak-anak muda
komplek langsung melakukan takbir keliling disekitar komplek.
Singkat cerita setelah melakukan takbir keliling, Sukri
mencari Tiwul untuk mengajak makan-makan dengan anak-anak muda komplek yang
sudah dipersiapkan oleh pengurus masjid. Sukri mencari ditempat hewan kurban,
karena secara Tiwul menjadi panitia penerima hewan kurban pasti keberadaan
Tiwul ada di tempat hewan kurban. Saat Sukri menghamipiri Tiwul di tempat hewan
kurban, dia tidak menemukan sosok Tiwul di tempat hewan kurban.
“Tiwul ki jane nang endi toh bocahe?”
Dia menghampiri panitia hewan kurban yang lain untuk
menanyakan keberadaan Tiwul. Tapi semua panitia hewan kurban juga tidak
mengetahui keberadaan Tiwul. Dia bingung, dia cemas, dia lelah, dia nggak tahu
harus mencari kemana lagi keberadaan Tiwul. Sesuatu yang berlebihan ini membuat
anak-anak muda komplek memandang Sukri layaknya pasangan sesama jenisnya Tiwul.
Sebenarnya apa yang ada di benak Sukri sampai-sampai ia nggak rela untuk
kehilangan seorang teman yang bernama Tiwul. Apa kelebihannya Tiwul coba? Ya itulah
namanya sahabat, ia tidak memandang apapun dari sosok seorang Tiwul.
Tiba-tiba Sukri didatangi salah satu anak kecil.
“Mas, mau nyari siapa? Nyari mas Tiwul ta?”
“Iya dek. Kamu tau mas Tiwul dimana?” sahut Sukri dengan
wajah sedikit bingung
“Itu mas di tempat hewan kurban”.
“Tadi aku udah nyari disana dek, tapi nggak ada mas
Tiwulnya.”
“Dipojokan tempat hewan kurban mas Tiwulnya mas.”
“Oke makasih dek.”
Lalu Sukri segera menghampiri Tiwul seperti apa yang
disarankan oleh anak kecil tadi. Ternyata benar juga, Sukri melihat Tiwul
berada dipojokan tempat hewan kurban sedang asyik bermain serta berlari-larian
dengan kambing-kambing bak film India yang ada disana sambil menangis syahdu.
“Wul, ngapain disini?”
“Eh Sukri. Enggak Kri, cuma main-main sama kambing disini.
Soalnya aku dulu pas kecil sering diajak orang tuaku mengembala kambing sama
sapi Kri. Jadi aku kalo main-main sama kambing gini keinget orang tuaku Kri.”
Kata Sukri dengan nada lirih
“Oh ceritanya kangen orang tuamu nih? Yaudah buruan dimention orang tuamu Wul.” Suruh Sukri
Seketika itu suasana menjadi hening dan yang terdengar hanya
ada suara kentut sapi.
“Malah diem-dieman nih anak.”
“Masalahnya ya itu Kri. Aku nggak bisa Kri.”
“Oh cah ndeso.” Jawab Sukri polos.
“Nggak, masalahnya bukan itu Kri. Tapi ini nggak ada alat
komunikasi untuk berhubungan sama orang tuaku di surga Kri.”
“Loh orang tuamu udah meninggal toh Wul?” jawab Sukri
kaget
“Iya Kri, dulu pas aku lulus SD orang tuaku dua-duanya
meninggal Kri dan meninggalnya pas malam takbiran kayak gini ini Kri. Setiap denger
suara takbir kayak gini aku selalu keinget mereka. Aku kangen mereka kri. Kangen
untuk berkumpul bersama mereka lagi, kangen canda tawa mereka, kangen dimarahin
mereka, kangen disuruh mereka, kangen nasehat-nasehat mereka. Semua kenangan
itu seakan mengingatkanku lagi saat malam takbir seperti ini. Dan salah satunya
cara yang mungkin bisa menenangkanku lagi ya kayak gini ini Kri. Aku cuma bisa
menyendiri tanpa ada orang yang tahu dan sealu diakhiri dengan keluarnya air
mata cengeng ini Kri.”
“Udah udah Wul.”
Sukri mendekati Tiwul dan memeluknya serta memberikan
kecupan manis dikening Tiwul dengan alasan untuk menenangkan hati Tiwul yang
sedang sedih.
“Asu we iki. Njijik’i pol. Nggak salah kalo anak-anak
banyak yang ngomong kamu itu homo.” Ujar Tiwul dengan ketus dan meninggalkan
Sukri sendirian di tempat hewan kurban.
“Aku nggak homo Wul. Cuma kalo pas liat kamu itu rasanya
kok serrr…. serrr…. ra karuan atiku iki Wul.” Kata Sukri polos.
Setelah mendengarkan cerita Tiwul, ternyata betapa
pentingnya keluarga disaat orang tua masih ada dan kita masih satu rumah dengan
mereka. Sebelum nantinya kita merasa jauh dari orang tua, karena saat jauh dari
orang tua itu rasanya nyesek sekali seperti kena penyakit asma yang kambuh tiap
hari, nggak tahu sampai kapan sembuhnya. Bahagiakan mereka selagi kita masih
bisa membahagiakan mereka, entah itu dalam bentuk yang sederhana. Contohnya ketika
saat kita disuruh beli gula, ya sesegera mungkin laksanakan perintah mereka. Mungkin
itu hal yang sangat sepele, tapi ketika saat kalian tidak dekat dengan mereka,
kalian pasti rindu akan perintah mereka, omelan mereka dll yang membuat kalian
ingin selalu dekat dengan mereka.
Saran kita sih gunakan waktu yang berkualitas untuk berkumpul
dengan keluarga meskiupun hanya sebentar. Untuk teman-teman yang masih mempunyai
orang tua lengkap jangan lupa kita tetap harus bersyukur karena kita masih
mempunyai tempat untuk berbagi cerita dengan mereka dan buat teman-teman yang
sudah ditinggal orang tuanya untuk menghadap tuhan terlebih dahulu jangan sedih
yang berkepanjangan. Bangkit dan buatlah mereka bahagia dengan melakukan sesuatu
hal yang baik dan do’a kan mereka di kehidupan yang lain.
Kebahagiaan keluarga itu sederhana, sesederhana membuat
mereka tersenyum.:)
kalo ada yang ingin share cerita seru, senang, sedih dengan keluarga kalian langsung aja tulis di box comment. See ya :D
Wrote by Unknown




.jpg)




