Ayah Maafkan Aku
Saat aku terbangun dari tidurku, aku barusan bermimpi bersenang-senang
denganmu tanpa ada rasa lelah yang menghinggapi diriku hingga lupa akan
semuanya saat aku sedang bersamamu. Tapi aku langsung tersadar dan buru-buru
berlari melihat ke kamarmu, betapa sunyinya kamar hangatmu itu yang selalu
menjadi ruang berbagi cerita dengan kekasih tercintamu itu.
Aku menjadi ingat akan semua kejadian itu. Beberapa waktu
lalu aku telah menanam pohon kemuning itu. Pikirku pohon itu bisa untuk menjadi
peneduh sementara disaat kau sedang sendiri dan biarkan nantinya aku bisa
bertafakkur disaat aku merindukanmu ayah.
Waktu itu hanya tangisanku yang bisa menggantikan ucapan
atas apa yang terjadi menimpa keluarga kita. Tangisan, kesedihan, duka, kehilangan,
kekecewaan, amarah semua menjadi satu di dalam hati ini saat aku menerima kabar
dan melihat peristiwa itu langsung dengan mata kepala sendiri. Saat itu aku
bingung aku harus bagaimana akan menolongmu, semua orang menghadangku saat aku
berusaha melangkah sekuat tenagaku untuk memelukmu yang terbujur dengan tenang.
Ayah …
Walau tak ada kata yang terucap saat itu, tapi aku merasa
kehilangan dirimu. Sosok ayah yang selama ini menjadi panutanku dan partner berbagi cerita untuk menjadi seorang
laki-laki yang tangguh dalam menempuh hidup yang masih panjang ini. Aku sangat
kehilangan kebahagiaan dan semangat yang ada dalam doa-doa ikhlasmu itu.
Engkau pergi tanpa meninggalkan apapun untukku, tapi
hanya satu warisan yang kau tinggalkan untukku saat aku berada dipangkuanmu
ataupun saat aku melakukan kekhilafan dalam menjalani hidup ini. Ya, warisan
yang kau tinggalkan itu suatu petuah-petuah sederhana yang kau ucapkan untuk
menjadi anak yang bisa berbakti dan baik terhadap sesama. Engkau memang tepat
memberikan warisan sederhanamu itu untukku, akan aku catat warisan itu didalam
jiwaku dan bisa menjadikan bekal dan bermanfaat disaat nanti aku mencoba
menjalani hidup ini. Disaat hujan membasahi bumi ini, semoga berkah hujan ini
menjadikam kami yang ditinggalkan untuk tabah dan tawakkal.
Meskipun aku tidak dapat menungguimu dikala engkau berada
di Rumah Sakit, tapi aku tak kecewa disaat kau berangkat meninggalkan rumah
sementara ini untuk menuju rumah yang abadi disana. Sesungguhnya aku menangis
sangat lama saat engkau akan berangkat, namun tangisan ini aku coba pendam
dalam-dalam agar engkau berangkat meninggalkan kami dengan tenang. Dengan senyum
dan ikhlasmu yang masih terlihat di wajahmu, aku yakin engkau cukup membawa
bekal dan aku bangga menjadi anakmu. Disaat engkau sudah terbaring di alas
tanah yang coklat itu, kami semua harus merelakan dan mengikhlaskanmu pergi
untuk menghadap sang kuasa dan menunggu keluarga kita tuk bertemu kembali di surga
nanti.
Ayah …
Aku akan berjanji untuk selalu mengirimkan do’a untukmu
yang pernah engkau ajarkan kepadaku disaat beribadah. Saat aku beribadah khusyuk,
engkau selalu hadir dalam ingatanku. Ingatan akan seorang suami dan bapak yang
amat sangat baik dan perhatian kepada keluarga yang tidak bisa dilupakan begitu
saja. Tolong bimbinglah kami ayah, bimbinglah kami meskipun kau jauh disana.
Sesungguhnya sampai saat ini aku masih belum cukup
berbakti dan masih belum sempat membanggakanmu dengan apa yang ku lakukan
selama ini, namun aku yakin engkau sudah memaafkanku terlebih dahulu meskipun
aku sudah membuatmu sakit hati yang teramat dalam bagimu.
Ayah …
Aku mohon maaf jika selama ayah mengurus dan membesarkan
aku hingga saat ini ada suatu kesalahan yang menjadikanmu selalu marah. Tak
lupa aku akan mendoakanmu di alam sana untuk menghantarkan kerinduanku padamu.

0 komentar